Komitmen Dosen dengan Tugas Tambahan: Organisasi atau Profesi?

Dosen memang makhluk yang spesial. Ia merupakan pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (3P). Begitu strategis peran dosen sehingga dengan mantab dapat dikatakan bahwa dosen merupakan aktor utama di Perguruan Tinggi (PT). Bahkan, begitu pentingnya posisi dosen sehingga perlu ditegaskan dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dalam jabatan-jabatan penting yang diatur dalam statuta masing-masing PT, jabatan-jabatan struktural strategis juga harus dipegang dosen. Rektor, Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, Ketua dan Sekretaris Jurusan, Ketua dan Sekretaris Program Studi, Ketua dan Sekretaris Lembaga, adalah contoh jabatan-jabatan strategis yang wajib diamanahkan kepada dosen. Tujuannya tidak lain adalah agar arah dan laju perkembangan PT tetap berujung pada tridharma PT (pendidikan, penelitian, dan pengabdian; 3P).

Amanah yang mewajibkan jabatan-jabatan struktural strategis harus dipegang oleh dosen sebenarnya menyisakan persoalan bila dosen harus melaksanakan tugas 3P secara penuh. Dalam pendidikan saja, seorang dosen harus meluangkan waktu untuk proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Belum lagi penelitian dan pengabdian. Oleh karena itu sudah sewajarnya bila dosen yang mendapatkan tugas tambahan (DT) dengan diamanahi jabatan struktural diatur beban tugasnya secara tersendiri. Beban kerja dosen (BKD) DT pada umumnya adalah minimal 3 SKS pada aspek pendidikan dan pengajaran (P1). Pada aspek penelitian (P2) dan pengabdian kepada masyarakat (P3) boleh dikosongkan. Alokasi waktu yang sedianya digunakan untuk melakukan P2 dan P3, disubstitusikan untuk melaksanakan tugas tambahan manajerialnya. Inilah idealnya.

Kenyataan di lapangan, tentu akan ada kendala. Pada PT dengan jumlah SDM dosen yang masih terbatas akan mengalami persoalan. Misal, dengan ukuran mahasiswa sebanyak 15.000, bila perbandingannya adalah 1 dosen untuuk 25 mahasiswa (1:25) maka dibutuhkan dosen sebanyak 600. Pada PT negeri yang sedang berkembang, ini sulit dipenuhi.

Imbas dari kekurangan dosen adalah dosen DT tidak mungkin diberi tugas hanya mengajar 3 SKS; biasanya 9 SKS. Akibatnya akan ada kegalauan pada diri dosen tersebut. Bila tugas manajerial sebagai struktural diutamakan, akibatnya adalah proses pembelajaran tidak dapat optimal energinya lebih banyak dialokasikan untuk tugas tambahan. Bila profesi sebagai dosen diutamakan maka unit organisasi yang dipimpinnya tidak akan dapat melaju dengan optimal. “Makhluk” dosen DT akan mengalami kegalauan komitmen. Mengacu pada Becker dkk (2015)*, besaran komitmen akan mengalami dinamika prioritas; cenderung pada organisasi (struktural) atau pada profesi (dosen)? Walaupun semua dosen mengalami, dinamika ini tampak lebih nyata pada dosen DT. Jabatan struktural yang diemban, ia posisikan sebagai tambahan atau sebagai tugas utama?

Beberapa sejawat dosen DT yang saya ajak bincang-bincang, mengatakan bahwa yang ia lakukan adalah situasional; ada kalanya mengajar harus direlakan untuk diturunkan prioritasnya karena lembaga ini sedang membutuhkan dirinya untuk fokus pada tugas tambahan. Ada juga yang mengatakan bahwa untuk satu periode ini ia akan fokus pada tugas tambahan, untuk sementara profesi dosen ia nomor duakan. Sejawat lain meyakini bahwa tugas utamanya adalah dosen. Bila ia mendapat tugas tambahan, hal tersebut tidak mengubah komitmennya untuk mengutamakan profesi, bukan organisasi. Kegalauan makin tampak pada dosen-dosen DT yang banyak mendapatkan tawaran kegiatan di luar PT sebagai narasumber. Banyaknya SKS mengajar di pascasarjana juga godaan yang seharusnya diatur sehingga tidak mengganggu tugas manajerial yang telah ditambahkan. Dalam kondisi seperti ini, ketegasan dan keteladanan dari pimpinan puncak PT sangat dibutuhkan. Apabila pembiaran dilakukan, hal tersebut akan mengakibatkan kondisi “uncontrolled” pada diri dosen-dosen DT, tentu akan berakumulasi pada organisasi PT yang “uncontrolled” pula.

Kegalauan komitmen ini seharusnya tidak perlu terjadi apabila jajaran menajemen PT menyadari betul apa saja tugas utama dosen. Seluruh dosen, termasuk dosen DT tanpa terkecuali, memiliki tugas utama melaksanakan 3P. Bagi dosen DT, tugas utama pengabdian (P3) diganti menjadi tugas struktural, sehingga tugasnya hanya pada aspek P1 sebanyak 2 SKS dan P2 sebanyak 1 SKS. Dengan demikian, komitmen dosen akan tetap terjaga pada prioritas profesinya, tetap mendidik dan meneliti, tidak dosen yang lupa dengan profesinya.

 

 

 

* Becker, T. E., Kernan, M. C., Clark, K. D., & Klein, H. J. (2015). Dual Commitments to Organizations and Professions. Journal of Management, 0149206315602532. doi: 10.1177/0149206315602532.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *